Sunday Afternoon, 17 Juni 2012

Posted: June 20, 2012 in Kisahku, Story

Hari itu, adalah hari yang mengacau-balaukan hatiku, meremuk-hancurkan perasaan & jiwaku. Betapa tidak, ayahku pingsan karena tidak kuasa menahan emosinya menyaksikan aku bertengkar dengan adik sulung perempuanku.

Kejadiannya bermula pada saat aku melihat handphone-ku dipegang oleh adik sulung perempuanku, aku yang sudah tidak begitu care sama dia karena sikapnya yang seenaknya sendiri padaku, tidak mau barang-barangku dipegang olehnya. Karena aku sudah jera, sudah banyak barangku yang dibawa dan diambilnya, dan diantara barang itu dia hilangkan tapi aku berusaha menerima dan memakluminya, dan aku selalu mencoba menuruti kemauan dan selalu mengalah terhadap semua hal dengannya, karena aku hanya berharap dia baik-baik saja dan menjadi anak yang baik.
Tapi apa….. begitu banyak yang kuberikan dan kurelakan padanya, dan begitu besar usahaku untuk selalu mengalah padanya, tapi dia sama sekali tidak pernah mendengarkan nasehat-nasehatku sekalipun dan sedikitpun, bahkan dia seringkali menunjukkan sikap tidak sopan dan acuh tak acuh padaku.

Aku merasa sangat amat kecewa padanya, dan aku putuskan untuk tidak mengacuhkannya lagi, setidaknya biar dia sedikit berfikir  kalau selama ini aku selalu ingin menjaga dan membahagiakannnya.
Tapi….. sekali lagi aku kembali kecewa dan sangat amat kecewa. Dia bahkan seolah nyaman sekali tanpa aku tegur, tanpa aku nasehati dan seolah-olah dia tak pernah menganggapku penting, bahkan tidak pernah menganggapku ada, kecuali dia membutuhkanku, ya..itu saja.

Maka rasa jera di diriku terasa lengkap sudah, maka aku benar-benar membiarkannya, dan kupastikan aku tak akan lagi memikirkannya, tak akan ada lagi untuknya, tak akan lagi peduli padanya walau apa pun yang terjadi dan yang akan terjadi (padanya).

Lalu waktu itu, aku melihat handphone-ku dipegang olehnya, aku terkejut, kenapa handphone-ku ada sama dia, padahal aku memberikannya pada V(adik perempuanku yang no.2), maka aku suruh adikku V untuk mengembalikan handphoneku karena aku tidak mau barang-barangku dipegang adik sulung perempuanku itu, apalagi sampai dihilangkan lagi, seperti barang-barangku yang lain yang pernah dia bawa.

Dan dia (adik sulung perempuanku) bilang untuk mengganti uangnya yang dipakai untuk men-service handphone itu, sebenarnya bukan di-service karena handphone-ku itu tidak rusak, tapi hanya diganti casing dalam dan luarnya saja (mungkin biaya semuanya sekitar seratus ribuan).
Maka aku bilang kalau sebenarnya aku tidak mau handphone-ku karena sudah diperbaiki atau diganti casing, tapi semata-mata karena aku tidak mau lagi barang-barangku dipegang dan dibawanya.
Lalu… dia membanting handphone itu sampai casing dan batrenya lepas dan lari ke luar sambil murang-muring, dan aku sangat amat terkejut ketika dia mengata2iku dengan kata2 binatang, serta merta emosiku memuncak lalu mengejarnya dan menampar mulutnya. Dia nangis, dua adikku yang lain menghampiriku sambil menangis histeris mungkin karena kaget melihat kejadian seperti itu, ibuku juga menghampiriku sambil ngomong-ngomong. Lalu bapak datang, dan berkata heran kenapa sesama saudara saling bertengkar, lalu bapak pergi ke ruang tamu dan duduk di kursi tamu dan pingsan.

Adik-adikku lantas menangis kencang sambil memegangi bapak dan meminta bapak bangun. Aku menelfon kakak sulungku dan kakak perawatku. Bapak tidak sadarkan diri sampai beberapa jam. Setelah bapak sadar, dia tidak langsung berkata-kata, badannya jadi lemas karena tidak makan. Banyak keluarga, sanak-saudara dan tetangga menjenguk bapak, kesalnya…ibu bercerita pada orang seolah-olah itu adalah mutlak kesalahanku, tapi aku diam saja dan mencoba menerimanya walau berat rasanya karena aku tidak mau keadaan bapak tambah buruk hanya karena keegoisanku untuk menegur cerita ibu di depan orang-orang.
Besoknya bapak sudah bisa sholat, tapi masih tidak berkata-kata sampai hari selasa pagi. Selasa pagi, sekitar pukul 6.30 bapak membangunkanku seperti biasanya dia membangunkanku, seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa pada bapak sebelumnya.

Kejadian ini, sangat membekas di hatiku, penuh emosi dan rasa serasa bercampur jadi satu. Rasanya, ingin sekali pergi jauh, mencari kehidupanku sendiri, tanpa dicampuri urusan keluarga yang seringkali membuat sesak hati.
Dan memang sejak dulu, aku mau memperdalam ilmu agama, memperbaiki dan menambah hafalan al-Qur’anku. Dan aku merasa yakin, dan setelah kejadian ini aku merasa tambah sangat yakin, suatu saat nanti aku akan meninggalkan bumi kelahiranku untuk itu, melangkah ke tempat yang lebih baik untuk menjadi manusia yang lebih baik. Insya Allah, amiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s